Ruh dalam Filsafat Islam

Dakwah hijrah islami, Ruh dalam pandangan Perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Artikel ini menjelaskan tentang  dimensi jiwa atau ruh manusia dalam pandangan perspektif Filsafat Pendidikan Islam. Ruh dalam teori filsafat pendidikan Islam, dapat diartikan benda fisik [jasad], tetapi sekaligus memiliki arti dimensi lain yang bersipat metafisis. Inilah yang menjadi perbedaan yang paling mendasar dalam teori filsafat pendidikan Islam.

Gambar Ruh dalam Filsafat Islam

Ruh Dalam Filsafat Islam

Pendekatan dari Filsafat Pendidikan Islam,  akan meletakkan bahwa Al Quran sebagai acuan utama. Dan Al Qur’an harus mampu direlasikan dengan berbagai aspek kehidupan yang ada, termasuk tentu dengan pendidikan Islam sekarang ini. Tulisan ini dapat pula diartikan sebagai studi konpemlatif tentang bagaimana sesungguhnya posisi manusia yang secara filosofis memiliki dua sisi yang berbeda. Perbedaan nya terletak pada dua dimensi yaitu dimensi jasadiyah dan dimensi ruhiyah. Dalam bahasa lain sering juga disebut sebagai dimensi prophan [duniawi] dan juga mutlak [ukhrawy].

Ulama berpendapat bahwa mengetahui hakikat _ruh itu tidak mungkin, karena ia merupakan ilmu yang khusus untuk Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidaklah mungkin memberikan definisi yang dapat membatasi esensinya. Allah telah menjelaskan dengan khithab al‘amm kepada orang-orang yang bertanya, bahwa mereka tidak diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit, dan pengetahuan yang sedikit ini tidaklah dapat mencapai derajat kasyf (penyingkapan) tentangnya.

'Akan tetapi, hal ini tidaklah menghambat mereka untuk mengetahuinya secara lebih rasional, mengarah pada jejak-jejak ruh, baik dalam keberadaan maupun ketiadaanya Ruh tidak dapat ditangkap oleh panca indera, karena itu mereka mengatakan bahwa ruh adalah tubuh halus dan tipis yang berada dalam anggota badan, seperti air dalam sumber air, dan api dalam arang. Allah menciptakan suatu kebiasaan dengan menciptakan kehidupan dalam jasad selama ruh ' masih berada didalamnya. Dan apabila ia berpisah, maka hilanglah kehidupan itu.

Jika kehidupan dinisbatkan pada ruh, maka ia laksana sinar matahari yang dinisbatkan kepada matahari itu sendiri. Sesungguhnya Allah menjalankan ketetapan dengan menciptakan sinar dan cahaya dibumi selagi matahari terbit, demikian pula Dia menciptakan kehidupan badan selagi ruh berada di dalamnya.

Imam al-Qunawi berkata, “Perkataan.' mi didukung oleh Syekh-syekh Sufi. ” Selanjutnya dia berkata, “ Perkataan ini adalah secara global dan bukan secara hakiki, karena pada dasarnya, ruh sama sekali tidak diketahui oleh manusia, dan hanya diketahui oleh Allah. Sedangkan perkataan tentang definisi ruh secara global adalah bagian dari sedikit pengetahuan yang telah diberikan Allah kepada kita
Allah SWT berfirman:

Menurut ‘ Abdullah ibn Buraidah, ayat di atas menunjukan bahwa Allah tidak memperlihatkan ruh kepada para malaikat dan tidak pula kepada nabi yang diutus.

Imam al-Qunawi berkata. “ Sesungguhnya kita mengetahui bahwa Maujud (eksistensi) itu ada dua,   yakni : Kekal (qadim) dan baru (hadits). Maujud yang kekal (qadim) adalah zat sifat Allah, sedangkan Maujud (eksistensi) yang bau (hadits) adalah partikel dan aksiden. Kita mengetahui berdasarkan Dalil al-‘Aqli (rasional), bahwa ruh bukanlah sesuatu yang qadim, karena kesendirian Allah dengan keesaan-Nya adalah kekal (azali) dan abadi.

Demikian sedikit penjelasan tentang Ruh, semoga bisa menambah ilmu pengetahuan dan kita menjadi paham tentang arti dari ruh itu sendiri dan Allah lebih mengetahui tentang semua yang ada di muka bumi ini dan juga kehidupan lain yang diluar sana melebihi batas kemampuan kita. Somoga bermanfaat. Jika Ada kekurangan atau kesalahan mohon di maafkan.

You might also like

0 Comments


EmoticonEmoticon