Beberapa Perbedaan Ruh dan Jiwa, yang perlu anda ketahui

Dakwah hijrah islami, Ruh Dan Jiwa ~ Dengan Melihat Pendapat jumhur ulama, lbn Zaid mengatakan bahwa ruh dan jiwa (nafs) adalah dua hal yang sama, dan sebuah berita (al-khabar) yang shahih telah membenarkan kesamaan keduanya secara mutlak. Pembuktiannya adalah apa yang telah di riwayatkan oleh al Bazzar dengan sanad shahih dari Abu Hurairah yang di-marfu kan kepada Nabi Muhammad SAW.

“Sesungguhnya orang Mukmin yang meninggal akan merasa senang apabila nafsunya telah keluar (meninggal dunia), dan Allah merasa senang apabila bertemu dengannya. Sesungguhnya ruh orang Mukmin akan naik ke langit, maka ruh-ruh orang-orang Mukmin yang telah berada di sana akan mendatanginya, lalu mereka menanyakan informasi tentang pengetahuanya berkenaan dengan penghuni dunia.” (Dalam hadits ini terdapat penyamaan antara jiwa (nafs) dan ruh.

Gambar Ruh dan Jiwa

Beberapa Perbedaan Ruh dan Jiwa


Ibn Habib mengatakan bahwa ruh dan Jiwa (nafs) adalah dua hal yang berbeda. Ruh adalah jiwa (nafs) yang mengalir dalam diri manusia. Sedangkan jiwa tidaklah demikian. Jiwa memiliki dua tangan, dua kaki, satu kepala dan dua mata. Ia juga bisa menikmat, kesakitan, bahagia, dan sedih. Ia “mati” ketika manusia tidur. Ia keluar, berlari dan menyaksikan mimpi. Sedangkan badan (Jasad) tinggal bersama ruh dan tidak merasakan kenikmatan serta kebahagiaan dalam tidur, hingga jiwa (nafs) kembali padanya.

Ibn Habib berpijak kepada firman Allah:

” Allah memegang jiwa-jiwa (al-anfus) orang ketika matinya dan memegang jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang telah ditentukan, sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah, bagi kaum yang berfikir." (QS. az-Zumar: 42) 

lbn Manduh menyebutkan bahwa pendapat ahli hadits (ahl al-atsar) mengenai ruh dan jiwa (nafs) memiliki keragaman pendapat, dan bahwa yang bertanggung jawab atas jiwa adalah ruh. Jiwa adalah gambaran seorang hamba. Hawa nafsu, syahwat dan musibah adaiah rekayasa jiwa dan tiada musuh yang lebih berbahaya bagi Bani Adam daripada jiwanya sendiri. Jiwa (nafs) hanya mengharapkan dunia, sedangkan ruh mengajak dan mempengaruhi manusia kepada Akhirat.

Para ahli tasawuf mengatakan bahwa jiwa adalah basis (ashl) manusia. Apabila ia diasah dengan oleh batin (riyadhah), dengan bermacam-macam dzikir dan pikir, maka ia menjadi ruh. Kemudian ia beranjak naik menjadi sebuah rahasia dari sekian rahasia Allah Ta’ ala.
 Makna dari itu semua adalah bahwa mereka mengatakan tentang kesatuan zat antara jiwa (nafs) dan ruh, hanya saja jiwa adalah asas bagi mereka. Jika jiwa diasah, maka Ia akan berubah menjadi ruh, kemudian menjadi salah satu rahasia Allah Ta’ ala. Perkataan ahli tasawuf tentang kesatuan mi tidak banyak sekali.

 Adapun pendapat tentang kesatuan zat antara ruh dan jiwa adalah pendapat kebanyakan, dan Ibn al-Qayyim juga mengacu pada pendapat tersebut. Berdasarkan kesatuanya itu, ia menerima keagungan dan kerendahah pelbagai perkara, seperti yang difirmankan Allah Swt:

“Maka‘Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaanya (QS. aS-Syams: 8)

Demikianlah sedikit penjelasan Tentang Ruh dan Jiwa, semoga dapat memberi pengetahuan bagi pembacanya. Amin,  Wallahu a’lam bish-shawabi.

You might also like

0 Comments


EmoticonEmoticon